Senin, 30 Oktober 2017

PEMBELAJARAN INTERAKTIF DI SEKOLAH DASAR

Oleh
Dra. NurKomariah, M.Pd

Pembelajaran interaktif merupakan sebuah model pembelajaran yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa, baik akademik maupun non-akademik. Pada pelaksanaannya melibatkan berbagai komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Di antaranya adalah tujuan, guru, siswa, media, dan penilaian.
Model ini berorientasi pada siswa, di mana siswa dilibatkan siswa secara langsung ( student centered). Model pembelajaran interaktif membuat siswa saling berinteraksi dalam berbuat dan berpikir yang mengasilkan umpan balik secara langsung terhadap materi pelajaran yang diberikan (Hake, 1997:65).
Menurut Rosnelli (2009:85), Model pembelajaran interaktif merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dengan guru, teman sekelasnya, dan media pembelajaran. Dengan demikian dapat menangani perbedaan individual siswa karena siswa dapat maju sesuai dengan kemampuannya tanpa harus menunggu teman sekelasnya. Proses pembelajarannya memungkinkan siswa untuk melakukan keleluasaan untuk belajar mandiri tanpa terganggu oleh yang lain dan mengikuti tes untuk setiap bahasan yang telah dipelajarinya dan terus maju sesuai dengan kemampuannya dengan bantuan arahan guru atau mengulang proses pembelajaran pada unit yang sama sampai mencapai penguasaan minimal sesuai target yang telah ditetapkan.
Pertanyaan adalah, “Apakah pembelajaran interaktif dapat diterapkan di sekolah dasar?”
Dari beberapa pendapat mengenai model pembelajaran interaktif di atas maka jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Ya.”
Dikatakan “Ya” jika model tersebut diterapkan tidak seidentik dengan yang diuraikan di atas. Penerapan di sekolah dasar dapat diterapkan hanya sebatas interaktif antara siswa dan guru, siswa dan siswa, siswa dan lingkungannya. Dengan kata lain penerapannya hanya sebatas hubungan aktif pada proses pembelajaran dan untuk memusatkan pembelajaran pada siswa.
Contoh pada pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menulis karangan narasi. Pada proses pembelajaran tentu guru tidak serta merta menjelaskan apa itu karangan narasi, ciri-cirinya, dan langkah-langkah membuatnya tetapi guru hendaknya melakukan Tanya jawab dengan siswa tentang karangan narasi. Berikan keleluasaan pada siswa untuk berpikir kritis dan berdiskusi dengan teman sebangkunya. Biarkan siswa mengeksplor pengetahuan yang sudah dimilikinya. Tugas guru adalah menampung jawaban siswa kemudian memberinya penguatan.
Selanjutnya guru dapat memberikan beberapa jenis teks bacaan. Tugaskan siswa untuk membacanya. Berikan waktu yang cukup pada siswa agar mereka dapat menentukan mana teks wanaca narasi dari beberapa teks yang telah dibacanya. Berikan juga kesempatan untuk mendiskusikannya dengan teman sebangku atau mungkin dengan kelompoknya. Ketika siswa talah memilih teks yang dimaksud maka siswa tersebut diberikan kesempatan untuk mengemukakan alasannya. Dengan begitu akan terjadi interaksi yang aktif.

Contoh lain padapembelajaran Ilmu Pengetahuan alam. Kompetensi dasar mengenal jenis-jenis akar pada tumbuhan. Untuk mencapai kompetensi tersebut tentu guru seyogyanya menugaskan siswa membawa jenis-jenis tumbuhan. Biarkan siswa mengamatinya untuk dapat menjelaskan perbedaan antara tumbuhan satu dan lainnya. Guru hanya memandu siswa menuju suatu simpulan nama tumbuhan yang berakar tunggang mana yang berakar serabut.
Untuk sampai pada suatu simpulan tentu harus tercipta interaktif, baik dengan guru maupun antar siswa melalui kegiatan Tanya jawab. Selain itu juga interaksi dengan sumber belajar yang dalam hal ini adalah tumbuhan, berupa pengamatan langsung untuk menemukan indicator pencapaian kompetensi.
Melalui pola seperti di atas tampak jelas terjadinya interaksi dengan guru, siswa, dan media pembelajaran. Posisi guru hanya sebagai fasilitator karena yang lebih aktif adalah siswa. Artinya pembelajaran berpusat pada siswa. Sebatas itulah penerapan model pembelajaraninteraktif yang dapatdilakukan di jenjang pendidikan Sekolah Dasar pada umumnya atau sekolah dasar regular. Pembelajaran dilakukan secara klasikal tidak secara individual. Siswa belajar bersama-sama dan selesai bersama-sama. 
Satukasus yang sering muncul di lingkungan sekolah dasar adalah siswa cendurung pasif saat pembelajaran. Sebagian besar siswa sekolah dasar siap menerima sejumlah materi bukan mendiskusikan materi pembelajar. Penyebab hal itu terjadi bukanlah siswa yang tidak mampu berinteraksi tetapi karena pola pembelajaran yang masih konvensinal. Pembelajaran berfokus pada guru. Dalam hal ini siswa merupakan objek pembelajaran.
Alternatif penyelesaian kasus di atas adalah guru perlu memahami fungsinya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Hal lain yang tidak kalah penting yaitu guru perlu berinovasi agar siswanya aktif dan interaktif di dalam kelas. Inovasi dimaksud adalah minimal  guru mampu menggunakan media dengan demikian pembelajaran interaktif dapat dilaksanakan.
Pembelajaran interaktif dapat dilakukan di sekolah dasar. Pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan berpikir anak dan karakteristik pembelajaran di SekolahDasar. Pada usianya antara 7 (tujuh) sampai dengan 13 (tiga belas) tahun yang masih senang bermain, senang berkelompok, dan banyak bergerak. Dengan demikian pembelajaran interaktif di sekolah dasar disajikan dengan serius tapi santai.Tentu saja dengan tidak mengurangi prinsip-prinsip yang terdapat di dalam pembelajaran tersebut.


Bogor, 20 Oktober 2017

Kamis, 26 Oktober 2017

GERAKAN LITERASI DARI BALIK GUNUNG

Oleh :
Nova Rahayuningsih, S.Pd. MM
Guru SDN Karyasari 01, Kec. Leuwiliang, Kab. Bogor

Membaca, menulis dan berhitung. Tiga hal tersebut merupakan kompetensi essensial kurikulum Sekolah Dasar (SD). Baik itu dulu, saat ini maupun kedepannya nanti. Ketiganya merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa-siswi SD. Ketika siswa SD sudah mampu membaca dengan lancar, menulis dengan baik dan berhitung dengan benar, maka guru dan sekolah layak menyandang predikat berhasil. Sebaliknya, ketika sudah hampir menamatkan SD siswa membaca masih terbata-bata, tulisannya masih seperti benang kusut dan berhitung masih sebatas satu ditambah satu sama dengan dua. Maka bersiaplah untuk menjadi guru dan sekolah tanpa kebanggaan.
Ketiga kompetensitersebut, kemampuan membaca adalah sebagai core competency (kompetensi inti). Mengapa demikian? Alasan pertama, membaca merupakan pintu ilmu pengetahuan. Semua ilmu pengetahuan dikomunikasikan dan diarsipkan dalam bentuk tulisan. Itu artinya dibutuhkan kemampuan untuk membaca. Hanya dengan kemampuan membaca kita berpeluang mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. Kedua, kehidupan tidak terlepas dari informasi. Informasi disampaikan dalam bentuk tulisan melalui media cetak, elektronik maupun digital. Informasi muncul dan berubah begitu cepat setiap saat. Siapa yang cepat mendapat dan tepat membaca informasi, mereka akan selangkah lebih cepat dalam kehidupan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Namun budaya membaca dan menulis tidak sebesar julukannya. UNESCO menyebut bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Lebih mengejutkan lagi hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan posisi budaya membaca dan menulis siswa Indonesia di urutan 57 dari 65 negara yang diteliti. Data empiris ini menunjukkan minat, perilaku serta budaya membaca dan menulis bangsa Indonesia sudah pada tataran mengkhawatirkan. Kondisi ini akan berdampak pada kecepatan kemajuan serta daya saing bangsa di era global. Secepatnya perlu kebijakan strategis dan upaya konkrit melalui upaya-upaya literasi.
Secara sederhana, literasi diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan kognitif seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Lebih luas lagi pengertian literasi bukan hanya sekedar kegiatan membaca dan menulis. Literasi juga bermakna praktis dalam interaksi sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, danbudaya. Singkatnya, kemampuan literasi sangat diperlukan bagi kemajuan seseorang, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, upaya literasi yang sederhana, konkrit, sistematis serta sejak dini itu lebih dibutuhkan.
Sekolah Dasar (SD), memiliki peran yang sangat strategis bagi upaya literasi sejak dini. Peluang keberhasilannya sangat besar apabila mampu mengemas secara sederhana, konkrit dan sistematis. Akan sangat membekas dalam diri siswa SD. Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentangbudipekerti, dimanasalahsatu isinyaadalahpembiasaanmembaca 15 menitsebelum proses belajarmengajar di sekolah. Gerakan Indonesia MembacadanMenulis yang dicanangkan Badan Bahasa Nasional bulan Agustus 2015.Dan realisasi Permendikbud 23/2015 dengan program GerakanLiterasiSekolah adalah payung hukum dan energi setiap upaya literasi di tingkat sekolah.
Saatnya bagi SDN Karyasari 01 berbuat bagi upaya gerakan literasi. Kondisi sebagai sekolah binaan ASTRA semakin menguatkan upaya gerakan literasi. Psikologi siswa SD yang sangat menurut pada guru akan memberikan peluang yang besar untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis sejak dini. Guru bagi siswa SD adalah segalanya. Bagi siswa SD, kata guru mengalahkan kata orang tua, teman bahkan tokoh/idola imajinatifnya. Tinggal faktor guru. Mampukah guru merancang kegiatan literasi yang sederhana, konkrit serta menarik. Mampukah guru melaksanakannya secara sistematis. Bukan sekedar gerakan yang sesaat. Akhirnya mampukah guru membangun budaya literasi sejak dini.
Program literasi di SDN Karyasari 01, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Hore aku pandai membaca dan menulis adalah serangkaian kegiatan fisik serta mental siswa atas bimbingan guru untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah dan mengungkapkan
hasilnya di kelas dan sekolah secara lisan maupun tulisan. Dikatakan kegiatan fisik karena melibatkan aspek psikomotorik kasar maupun halus. Literasi merupakan proses mental karena membutuhkan kemampuan koqnitif  (nalar) serta afektif (sikap).
Membaca adalah kegiatan fisik. Memahami bacaan, menemukan isi, mengungkapkan kembali bacaan dengan bahasa dan tulisan sendiri adalah proses mental. Perpustakaan yang selama ini kebanyakan menjadi pelengkap dan pemanis sekolah harus diberdayakan. Jadikan perpustakaan sebagai tempat transaksi ilmu pengetahuan. Bukan sekedar museum atau bahkan gudang penyimpanan pengetahuan belaka. Kelas dan sekolah harus menjadi panggung mengekspresikan pengetahuan dan kemampuan. Agar tidak lupa dan literasi muncul sebagai kebiasaan. Semuanya tentu perlu sentuhan, bimbingan dan kreatifitas guru.  
Pandai membaca dan menulis di SDN Karyasari 01 pada prinsipnya memuat 3 komponen utama. Muatan literasi, pembiasaan literasi dan penguatan literasi. Muatan literasi adalan standar kecakapan literasi yang harus dicapai. Standar Kecakapan Literasi (SKL) tersebut terdiri dari :
  1. Kelancaran dalam membaca.
  2.  Penggunaan tanda baca dan intonasi dalam membaca.
  3. Kemampuan memahami isi bacaan.
  4. Mengungkapkan isi bacaan melalui bercerita dengan bahasa sendiri.
  5. Mengungkapkan isi bacaan dalam bentuk tulisan sederhana.
  6.  Memiliki kebiasaan, perilaku dan sikap gemar membaca dan menulis.
  7. Pembiasaan literasi dipilih sebagai kegiatan untuk pencapaian SKL. 
Pembiasaan literasi dirancang secara sederhana, menarik dengan memberdayakan perpustakaan sekolah. Pada kegiataan awal, siswa diarahkan memilih buku bacaan di perpustakaan sekolah yang disukainya. Catat judul buku, nama pengarang dan tidak boleh lupa tulis alasan mengapa tertarik dengan buku bacaan tersebut. Selanjutnya siswa harus menceritakan kepada beberapa temannya tentang buku bacaan pilihannya tersebut. Aktifitas ini dimaksudkan supaya siswa memiliki keberanian dan kemampuan mengkomunikasikan ide kepada orang lain. Pengulangan cerita kepada beberapa teman dimaksudkan untuk memunculkan pembiasaan.
Membaca menjadi upaya lebih lanjut memahami isi buku bacaan pilihan. Diperlukan kecermatan siswa dan waktu yang cukup. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengasah kemampuan memahami siswa. Proses mental yang melibatkan kemampuan koqnitif dan afektif. Membaca harus diakhiri dengan produk berupa ringkasan (resume) isi bacaan. Ringkasan dibuat sesingkat mungkin dengan bahasa siswa. Kesesuaian ringkasan dengan isi bacaan menjadi indikator terbentuknya koneksi membaca - memahami - mengekspresikan kembali.
Kelas menjadi ajang mengekspresikan kecakapan literasi. Arena menguji keberanian. Ada 2 produk pembiasaan literasi yang harus dikuatkan dengan cara ditampilkan.
Pertama, ringkasan buku bacaan pilihan sebagai produk/karya intelektual jurnalistik. Papan pajangan kelas dan pohon literasi menjadi media yang tepat bagi produk/karya intelektual jurnalistik ini. Rasa gembira saat membuat pohon literasi. Kepuasan, rasa dihargai dan bangga akan muncul. Lebih lanjut akan menumbuhkan motivasi berkarya bagi warga kelas. Produk kedua, kemampuan bercerita sebagai kemampuan mengkomunikasikan gagasan. Bercerita di depan kelas secara klasikal sebagai salah satu pilihan wahana kegiatan berekspresi. Ketika pada tahap pembiasaan siswa sudah dilatih bercerita kepada teman. Bercerita di depan kelas, menjadi tindak lanjut klasikal yang lebih luas dan memberi tekanan yang lebih besar. Rasa takut dan tekanan yang besar akanmendewasakan mental dan menguatkan keberanian siswa-siswi SDN Karyasari 01.

Senin, 23 Oktober 2017

PUISI ISLAMI

Oleh Pujangga Kelana

DARI TITIK INI

Dari titik ini aku mulai
Memaknai hidup sepenuh hati
Semua misteri harus kuungkap sampai tepi
Hitam putihnya harus kusikapi
Jalan membentang musti kutapaki
Mengurai kisah perjalanan diri
Mencari makna keagungan Sang Ilahi

Dari titik ini aku berjalan
Mengatur langkah perlahan - lahan
Belajar yakin kepada Tuhan
Pertebal iman dan ketaqwaan
Tapi hidup bukan mainan
Terpaan badai jadi ujian
Ombak dan gelombang  jadi tempaan

Dari titik ini aku berniat
Hindari ingkar dan hianat
Sebelum Allah timpahkan laknat
Menyiksaku di akhirat
Ya Allah pemilik Rahmat
Jadikan aku umat yang taat
Susah dan senang dirikan shalat


Rumpin, 6 Juli 2016

IZINKAN HAMBA MASUK SURGA

Ya Allah…
Hamba bersimpuh luruh berpasrah penuh
Panjatkan pinta meski malu menyaput jiwa
Bangunkan hamba kelak di alam kebangkitan
Dengan senyum berbinar cahaya di wajah hamba
Kemilau berkilauan
Berikan catatan amal hamba dari sisi kanan
Sebagai bekal langkah ke Padang Mahsyar
Izinkan hamba dan mereka yang Kau pilih
Mendapat syafaat dari Rasulullah
Satu lagi pinta hamba
Legakan hati dengar kesaksian anggota badan
Tanpa dusta dan tipu daya
Mizan pun tak menjadi beban
Timbangan kebaikan kalahkan keburukan
Dan izinkan hamba memasuki pintu kebahagiaan abadi
Bersama orang-orang beriman dan beramal shaleh
Ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai – sungai
Berhiaskan emas dan mutiara
Berpakaian sutera
Mereguk suka cita
Menikmati setiap pinta yang Kau kabulkan seketika

 Rumpin, 17 Juni 2016


HIDUP

Hidup adalah kumpulan kisah perjalanan
Setiap cerita tercatat rapi tak terlewatkan
Rakib dan Atid punya kewenangan
Menulis setiap perbuatan inkar dan keimanan

Hidup adalah dusta nestapa
Bagi insan yang tak miliki jiwa
Dunia dan harta tujuan utama
Hingga halalkan segala cara

Hidup adalah ladang akhirat
Tempat menanam benih sebelum wafat
Hisabnya kelak setelah kiamat
Mendapat laknat atau syafaat

Hidup adalah mimpi indah
Bagi mereka yang rajin ibadah
Dera derita  tak membuat gelisah
Karena  Allah tempat ia berpasrah

Tarogong, 20 Juni 2016

TIADA TUHAN SELAIN ALLAH

Maha suci Allah yang menjadikan langit
dengan gugusan-gugusan bintang
dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan bercahaya
Semua karena Allah
Semua ciptaan-Nya
Menjadi bukti keberadaan-Nya
Keberadaan yang memeliki kekuatan maha kuat
Kekuasaan maha kuasa
Masih sanggupkah kita mendustakan-Nya?
Berpaling dari bukti-bukti keberadaan-Nya
Hingga tak kuasa untuk berkata “tiada Tuhan selain Allah”

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
Mari lah kita berfikir dan ber-tadabbur kepada semua ciptaan-Nya
Adakah selain Allah yang mampu menciptakan semua  alam semesta dan isinya?
Hingga kemudian mampu menutupi hatimu untuk berkata “tiada Tuhan selain Allah”
Tidak!
Yakini lah bahwa memang “tiada Tuhan selain Allah”


Rumpin, 6 Juli 2016