Jumat, 20 Oktober 2017

PEMBELAJARAN BERMAKNA

Oleh: Dra. Nur Komariah, M.Pd

Pengawas Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan bertujuan perubahan. Tentu perubahan yang dimaksud adalah yang baik. Dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dan dari tidak berkarakter menjadi lebih berkarakter. Kegiatan tersebut dilakukan baik di lembaga formal ( sekolah) maupun di lingkungan social serta di rumah.
Pendidikan juga merupakan pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Dengan demikian pendidikan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Pertanyaannya, apakah untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan pembelajaran bermakna? Seperti apa pembelajaran bermakna itu?
Proses pendidikan tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan jika kegiatan pembelajaran tidak dilakukan dengan benar. Pembelajaran yang dilakukan serampangan, missal tidak menggunakan perencanaan matang, tidak akan dapat mencapai tujuan. Apalagi jika disajikan oleh orang yang hanya mengerti tentang berbagai ilmu pengetahuan saja. Hal demikian akan terkesan hanya sekedar kegiatan mentransfer ilmu saja.
Pembelajaran  diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari  kata  dasar “ajar” yang  berarti petunjuk  yang  diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. 
Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda.
Pembelajaran dikatakan bermakna apabila dilakukan oleh seorang yang professional. Ia faham akan apa yang harus dilakukannya di depan warga belajarnya. Tentu bukan merasa paling pandai di depan kelasnya. Bukan pula menganggap dirinya paling tahudan paling penting. Hal yang demikian itu hanya akan membawa warga pembelajar memperoleh ilmu saja, tidak memperoleh pengalaman belajar.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran. Pada bagian ini pendidik dituntut trampil merancang langkah-langkah pembelajaran secara sistematis. Menjabarkan scenario pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar pada anak dan bukan hanya memberikan sejumlah materi atau bahan ajar untuk kepentingan ujian saja tetapi memberikan pengalaman belajar akan lebih bermakna.
Siswa bukan gelas kosong yang harusdi isi. Perumpamaan itu sangat tidak tepat. Jika ada guru yang beranggapan seperti itu, artinya ia belum faham tetang tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Pada jenjang pendidikan mana pun perlakukan siswa sebagai teman, relasi yang sudah memiliki pengetahuan atau tetang banyak hal. Tugas guru adalah mengembangkan pengetahuan yang sudah ada dan menambahnya sesuai kapasitas siswa itu sendiri.
Tentu penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi dan tepat sangat dibutuhkan. Proses pembelajaran yang miskin metode bahkan mungkin miskin alat peraga dan atau media pembelajaran akan berdampak kejenuhan pada siswa. Oleh karena itu keterampilan memilih dan menggunakan metode serta penggunaan alat peraga sangat berpengaruh pada hasil yang diperoleh.
Banyak sekali jenis metode atau model pembelajaran. Tidak sedikit alat atau media pembelajaran yang dimiliki sekolah. Permasalahannya adalah bagaimana guru menerapkan dan menggunakannya. Di sini guru dituntut terampil memilih dan menggunakan metode dan alat pembelajaran. Tentu bagi seorang guru professional hal itu tidak akan jadi masalah, bahkan mampu mengembangkannya.
Indikator lain sebuah pembelajaran dikatakan bermakna adanya interaksi antara peserta didik dengan guru, peserta didik dengan peserta didik, maupun dengan media pembelajaran serta dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini akan bermakna jika dilakukan di lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenagkan. Di mana peserta didik tidak merasa tertekan dan terhindar dari kebosanan. Dibimbing oleh seorang guru yang faham akan tugasnya sebagai fasilitator bukan sebagai single aktor.
Pembelajaran bermakna menuntut siswa lebih aktif bukan hanya menghafal tetapi mampu menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada atau pernah diketahui sebelumnya. Untuk mencapainya guru sebagai pendidik berkewajiban menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dan benar, baik penyusunan rencana, pelaksanaan, penilaian, dan pemberian tindak lanjut.


Selasa, 17 Oktober 2017

MENINGKATKAN KETERAMPILAN LITERASI PESERTA DIDIK MELALUI VARIASI TEKNIK PEMBELAJARAN : MIND MAPPING, FISHBONE DIAGRAM, Y-CHART, PARAGRAF AIH DAN INFOGRAFIS MANUAL


Oleh : Nina Krisna Ramdhani
Guru SD Negeri Cikereteg 03 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor Jawa Barat

PENDAHULUAN

Tulisan ini akan diawali dengan latar belakang mengapa penulis memilih judul “Meningkatkan Keterampilan Literasi Peserta Didik Melalui Variasi Teknik Pembelajaran: Mind Mapping, Fish Bone Diagram Ishikawa, Y-chart, Paragraph AIH dan Infografis Manual”.

Seperti kita ketahui bahwa keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita, karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Ada pepatah mengatakan “Rajinlah membaca buku, karena buku jendela ilmu”. Begitu pentingnya  peran membaca, maka keterampilan membaca harus dikuasai peserta didik sedini mungkin.

Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur (OECD-Organization for Economic Cooperation and Development). Indonesia pada tahun 2012 berada di posisi ke-64 dari 65 negara peserta PISA. Dan pada tahun 2016 berada di posisi ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di atas Botswana.

Rendahnya budaya baca tersebut  menyebar secara merata di semua segmen masyarakat:
  • Ahmad Baedowi  meneliti para wisudawan, terungkap bahwa para mahasiswa pada saat menjalani pendidikan di perguruan tinggi rata-rata hanya mampu  menamatkan buku  satu sampai dua judul saja (Republika, 7 April 2014)
  • Abdul Mu’ti, mengakui sikap malas membaca buku bukan hanya di tingkat kalangan mahasiswa tingkat sarjana (S1), tapi juga pada kelompok mahasiswa pascasarjana (S2). (Media Indonesia, 15 Januari 2011).
  • Ayip Rosidi, 2006: Anak-anak Indonesia membaca 27 halaman buku per tahun  atau 1 halaman 15 hari.
  • Taufik Ismail, 2006: Sejak Indonesia merdeka tidak ada 1 pun buku sastra yang wajib dibaca di sekolah. Telah terjadi Tragedi Nol Buku di Indonesia.
Dalam konteks internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV) diuji oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan (IEA-The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang dilakukan setiap lima tahun (sejak tahun 2011. Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD-Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta degan skor 428 dan skor rata-rata 500 (IEA, 2012).  Sementara itu uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukka bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Rendahnya keterampilan literasi tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajar yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis mencoba mengidentifikasi beberapa masalah penyebab rendahnya keterampilan literasi peserta didik, diantaranya : (1) Peserta didik tidak mempunyai figur  teladan dalam aktivitas literasi; (2) Peserta didik  merasa jenuh dalam kegiatan pembelajaran yang monoton (duduk-diam-dengar); (3) Tidak adanya minat atau motivasi pada diri peserta didik dalam kegiatan literasi; (4) Guru tidak menggunakan metode, model dan teknik pembelajaran yang menarik dan variatif; (5) Tidak adanya ekosistem yang literat di sekolah.

Adapun maksud dan tujuan Penulisan  ini yaitu untuk sharing knowledge berbagi pengalaman mengajar dengan berbagai teknik pembelajaran yang menarik seperti mind mapping, Fishbond diagram Ishikawa, Y-Chart, Paragraf AIH dan Infografis Manual yang dapat meningkatkan kemampuan literasi peserta didik pada beberapa mata pelajaran.

Tulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi guru yang sedang berusaha memperbaiki teknik mengajar dalam proses pembelajaran dan juga memberikan suasana baru
yang lebih dinamis dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu, pengalaman mengajar yang penulis tulis ini juga dapat dijadikan sebagai referensi bagi guru dan dapat diaplikasikan oleh guru dalam mengembangkan profesionalisme mengajarnya.

Jika pengalaman penulis ini diduplikasi dan diimplementasi oleh guru di kelasnya masing-masing, manfaat yang akan dirasakan oleh  peserta didik diantaranya  dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam pembelajaran, dapat meningkatkan  kemampuan literasi peserta didik, dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, dan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil keterampilan literasi peserta didik.

Bagi sekolah, tentu saja manfaat yang dirasakan dapat berupa terjadinya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, mengembangkan ekosistem sekolah yang literat, dan dapat dijadikan sebagai referensi pengembangan dalam meningkatkan kemampuan literasi dan ekosistem literat  di sekolah.

PROSES DAN HASIL KARYA KETERAMPILAN LITERASI

Beberapa proses kegiatan pembelajaran yang  penulis  lakukan di kelas dan berhasil meningkatkan keterampilan literasi peserta didik diantaranya yaitu: 

Menulis Laporan Hasil Kunjungan Menggunakan Teknik Mind Mapping.

Mind Mapping adalah proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep permasalahan tertentu sehingga membentuk korelasi dan pemahaman yang dituangkan langsung di atas kertas dengan gambar animasi yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Metode ini dipopulerkan oleh Tony Buzan, seorang psikolog dari Inggris. Beliau adalah penemu mind map (peta pikiran).

Langkah-langkah pembelajaran:
  • Guru menjelaskan materi tentang Laporan hasil pengamatan/kunjungan.
  • Guru menjelaskan bagaimana cara Mendeskripsikan isi dan teknik penyajian suatu laporan hasil pengamatan/ kunjungan dengan teknik Mind Mapping.
  • Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan apa, siapa, dimana, kapan, mengapa (5W+1H) obyek yang akan dikunjungi.
  • peserta didik diminta membuat laporan hasil kunjungannya secara kelompok ke obyek kunjungan tertentu yang sudah dilakukan sehari sebelumnya.
  • Peserta didik mempresentasikan laporan hasil kunjungan dengan bahasa lisan di depan kelas secara berkelompok.
Diskusi dan Presentasi Dampak Globalisasi Menggunakan Teknik Fish Bone Diagram/ Diagram Ishikawa

Dikatakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan) karena memang berbentuk mirip dengan tulang ikan yang moncong kepalanya menghadap ke kanan. Diagram ini akan menunjukkan sebuah dampak atau akibat dari sebuah permasalahan, dengan berbagai penyebabnya. Efek atau akibat dituliskan sebagai moncong kepala. Sedangkan tulang ikan diisi oleh sebab-sebab sesuai dengan pendekatan permasalahannya.

Langkah-Langkah Pembelajaran:
  • Guru menjelaskan materi tentang  peranan Indonesia pada era global dan dampak positif serta negatifnya terhadap kehidupan bangsa Indonesia.
  • Guru menjelaskan bagaimana menuliskan hasil diskusi tentang dampak globalisasi menggunakan  teknik fishbone diagram.
  • Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok
  • Setiap kelompok mendiskusikan apa, siapa, dimana, kapan, mengapa (5W+1H) dampak positif dan negatif globalisasi di Indonesia.
  • peserta didik membuat laporan hasil diskusi secara kelompok tentang dampak positif dan negative globalisasi di beberapa sector/bidang di Indonesia.
  • Peserta didik mempresentasikan laporan hasil diskusi dengan bahasa lisan di depan kelas secara berkelompok.
Menanggapi Informasi dari Kolom/Rubrik Koran Menggunakan Teknik Y-Chart

Teknik Y-Chart adalah teknik revieu dengan melaporkan hal yang telah diindra (dilihat, didengar dan dirasa) dari suatu kolom/rubrik di Koran yang telah dibaca.
Laporan yang telah disusunn tersebut dibagi batas garis huruf Y atau dibagi dalam tiga hal yang telah diindra, meliputi:
Insight yaitu hal berkesan “terlihat” dalam bacaan
Ideas yaitu hal berkesan”terdengar” dari bacaan
Learning yaitu hikmah yang terasa dalam bacaan.

Langkah-Langkah Pembelajaran: 
  • Guru menjelaskan materi tentang Teks dari salah satu kolom khusus pada majalah anak.
  • Guru menjelaskan bagaimana teknik menuliskan hasil riveuw teks bacaan kolom/rubrik Koran menggunakan  teknik  Y_Chart.
  • Peserta didik membaca teks kolom/rubrik yang ada di Koran dan mulai mencari dan mencatat tiga hal penting yang diindra dalam bacaan, yaitu: Insight, Ideas, dan Learning.
  •  Peserta didik mempresentasikan laporan hasil revieu rubric Koran menggunakan Y-Chart dengan bahasa lisan di depan kelas secara individu.
Penggunaan Teknik Menulis Paragraf AIH dalam Memahami Wacana Lisan Hasil Wawancara

Teknik menulis paragraf AIH adalah teknik menulis reviu yang penyusunannya berentuk paragraph dengan struktur paragraph sebagai berikut:
Alasan, yaitu paragraf alasan memilih tema wawancara
Isi, yaitu paragraph dengan gagasan tentang isi wawancara yang menarik
Hikmah, yaitu paragraph yang mengungkapkan pesan moril dari wawancara yang dilakukan.

Langkah-Langkah Pembelajaran :
  • Guru menjelaskan materi tentang  mencatat pokok-pokok isi berita televisi atau radio
  • Guru menjelaskan bagaimana cara menyampaikan kepada teman isi berita televisi atau radio
  • Guru menjelaskan bagaimana teknik menulis ringkasan hasil riveu wawancara dalam bentuk paragraf AIH
  • Peserta didik mempresentasikan laporan hasil wawancara dengan bahasa lisan di depan kelas secara individu.

Memvisualisasikan Nilai-Nilai Kebersamaan dalam Kegiatan Sehari-Hari dalam Bentuk Gambar  Melalui Teknik Infografis Manual.
 
Infografis secara sederhana dapat diartikan sebagai visualisasi dari suatu data atau informasi. Visualisasi yang digunakan dalam infografis sangat beragam, misalnya foto, gambar, garis, warna dan sebagainya. Infografis biasanya digunakan sebagai alat penyampaian suatu informasi yang sudah divisualisasikan sehingga dapat lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca.

Langkah-Langkah Pembelajaran:
  • Guru menjelaskan materi tentang  nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.
  • Guru menjelaskan bagaimana cara teknik memvisualisasikan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari melalui teknik gambar infografis.
  •  Peserta didik menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti kertas gambar, cat air/krayon/pinsil warna.
  • Peserta didik diberi kebebasan berpendapat bagaimana cara mengungkapkan pemahaman nilai-nilai kebersamaan dalam bentuk visualisasi gambar infografis manual.
  • Peserta didik mempresentasikan laporan hasil visualisasi gambar infografis dengan bahasa lisan di depan kelas secara individu.
Demikianlah pengalaman mengajar yang ingin penulis bagikan. Satu hal yang perlu diingat, selain dapat meningkatkan keterampilan literasi, pada variasi teknik pembelajaran yang penulis terapkan di kelas ini peserta didik bisa merasakan kebanggaan, kepuasaan dan penghargaan tersendiri melihat hasil-hasil produk literasi yang mereka buat. Dengan mempresentasikan hasil produk dan memajang hasil produk di kelas, tumbuh motivasi dan keinginan dalam diri peserta didik untuk membuat hasil karya-hasil karya yang lain pada materi pelajaran yang berbeda. Dengan mempresentasikan produk literasi di depan kelaspun keterampilan berkomunikasi secara verbal/lisan peserta didik semakin baik. Tumbuh keberanian dan kepercayaan diri peserta didik ketika mereka menjelaskan materi pelajaran melalui produk yang dihasilkan. Sehingga keterampilan literasi lisan dan tulisan secara tidak langsung dapat meningkat beriringan. Semoga bermanfaat.

  
RIWAYAT PENULIS

Nina Krisna Ramdhani. Perempuan kelahiran Bogor, pada tanggal 20 Oktober 1971 ini adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan Bapak H. Mardjuki dengan Ibu Hj. Sukanti. Menamatkan Pendidikan SD dan SMP di Leuwiliang, kemudian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di Kodya Bogor. Pendidikan S1 diselesaikan di IKIP Negeri Jakarta, dan melanjutkan kuliah S2 jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia di STIE IPWI Jakarta. Praktisi pendidikan ini mempunyai pengalaman mengajar mulai jenjang TK hingga Perguruan Tinggi. Tugas pokok dan fungsinya setelah diangkat menjadi guru PNS pada tahun 2006 yaitu di SD Negeri Cikereteg 03 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Guru SD yang sangat mencintai dunia pendidikan ini saat sekarang sedang menyelesaikan Disertasi S3 Program Doktor jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor.

Selain mengajar, kecintaannya pada dunia pendidikan dibuktikan dengan banyaknya aktivitas yang mendukung profesi. Melalui wadah komunitas “Change Educator Organizer” yang berubah nama menjadi “Pendidik Indonesia Pelopor Perubahan” yang digagas dan dimotorinya langsung, telah banyak guru-guru di wilayah kabupaten Bogor dan sekitarnya memperoleh pelatihan, peningkatan kompetensi guru, dan menghasilkan banyak produk ilmiah sesuai harapan pemerintah melalui program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Tugas terbaru yang diembannya saat ini (dilantik tanggal 23 Mei 2017) adalah sebagai Wakil Ketua Asosiasi Guru Penulis PGRI Kabupaten Bogor hingga masa bakti  2020 nanti.

Semua tugas dan aktivitas dilakukan dengan penuh rasa syukur. Dukungan penuh dari suami, Waluyo Sanwitanom, elt dan putra/putri tercinta Nawal El-Wani Trah Hutami dan Dipajati El-Nayo Trah Hutomo merupakan booster  energy baginya. Motivasi terkuat dalam menjalankan segala aktivitas diatas adalah harapan ingin menjadi teladan bagi putra/putrinya di rumah dan siswa/siswinya di sekolah. Bahwa belajar itu sepanjang hayat masih dikandung badan,  bahwa mencari ilmu itu harus sampai ke negeri Cina,  dan menuntut ilmu itu hingga kita masuk  ke liang lahat...

Senin, 16 Oktober 2017

MELENGKAPI KEPRIBADIAN DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : Dra. Nur Komariah,M.Pd

Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor (Pengawas Sekolah Dasar)

         
Samakah kepribadian dengan karakter? Jawabnya tidak. Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang memiliki kepribadian berbeda-beda. Perbedaan itulah yang membuat manusia satu dan yang lainnya memiliki ciri. Kepribadian dibawa manusia sejak lahir, bukan dibentuk tetapi lebih bersifat bawaan. Lingkungan tidak mampu membentuk kepribadian sesorang tetapi mempengaruhi mungkin saja terjadi.
Ada empat jenis kepribadian, kepribadian yang cenderung koleris, yaitu pribadi yang lebih suka kemandirian, tegas, berapi-api, dan suka tantangan. Ada juga yang lebih cenderung sanguin; yaitu suka dengan hal praktis, ceria selalu, dan suka akan kegiatan social. Lain halnya dengan pribadi yang plegmatis, yang suka kerja sama, menghindari konflik tetapi tidak suka perubahan mendadak. Sedangkan pribadi yang melankolis memiliki cirri suka akanhal detil, menyimpan kemarahan, perfeksionis, dan akan isntruksi yang jelas serta menyukai kegiatan rutin.
Di atas ini adalah teori klasik tentang kepribadian. Banyak lagi berkembang teori baru yang tetang hal tersebut. Tidak jarang teori kepribadian digunakan sebagai alat tes bahkan sebagai alat pengukuran potensi manusia. Pertanyaannya adalah, apa yang menjadi pembeda antara kepribadian dengan karakter?
Karakter berkaitan dengan konsep moral, sikap moral, danperilaku moral. Ketigahal tersebut saling berkaitan satusama lain. Sesorang yang prilakunya bermoral tertentu disebabkan karena memiliki konsep dan sikap bermoral. Begitupun sebaliknya. Dengan demikian karakter itu bukan merupakan bawaan sejak lahir tetapi dibentuk oleh lingkungan. Karena itu untuk membentuk manusia berkarakter maka pendidikan berbasis karakter sangat dibutuhkan.
Secara sederhana pendidikan karakter diartikan sebagai suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang berlaku di lingkungannya. Hal tersebut diharapkan berdampak pada bagaimana seseorang menjalani hidupnya sebagai mahkluk sosial. Karenanya muncul sebuah pertanyaan, “Apakah membetuk karakter peserta didik merupakan kewajiban seorang pendidik?” Jawabannya adalah, “Ya.”
Kewajiaban tersebut bukan sertamerta dilakukan di waktu khusus seperti halnya sebuah pembelajaran. Akan tetapi pelaksanaannya include di dalam sebuah proses pembelajaran. Tidak dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu pendidikdi harapkan mampu merancang sebuah scenario pembelajaran yang di didalamnya mengusung pendidikan karakter.
Kata kuncinya adalah pendidik mampu merancang scenario pembelajaran berbasis pendidikan karakter. Bagamana caranya? Apakah cukup hanya dengan ditulis; karakter yang hendak dicapai kejujuran, disiplin, dan seterusnya? Tentu tidak. Penulisan hanyalah sebagai penanda, yang paling penting adalah bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran. Di setiap kejadian sekecil apa pun, pendidik harus mampu mengkorelasikannya dalam sebuah nilai karakter. Contoh, seorang peserta didik tidak membawa pensil atau bolpoint kemuadian ia berusaha meminjam kepada temannya. Ada atau tidak ada yang meminjamkannya maka pendidik harus peka. Kejadian tersebut dapat diangkat sebagai contoh penerapan pendidikan karakter.
Sepintas terlihat sepele, tetapi penguatan yang dilakukan oleh pendidik.akan sangat berpengaruh pada karakter peserta didik. Dengan penguatan tersebut peserta didik akan memahami bagaimana seharusnya bersosialisasi, saling membantu, dan saling mengasihi.  Dengan demikian lambat laun akanter bentuk sebuah karakter yang diharapkan, meskipun mungkin dalam rencana pembelajaran tidak ditulis jenis-jenis karakter yang diharapkan dicapai.
Hal-hal sepele itulah yang jika terus menerus berulang akan membentuk sebuah karakter yang diharpakan. Yang paling penting bukan seberapa lama pendidikan karakter itu diimplementasian tetapi seberapa sering dilakukan. Dengan demikian maka sebuah pembiasaan lebih bermakna daripa dasebuah program yang apalagi jika tidak dilakukan. Kuncinya adalah pembiasaan. Bukan penyusunan programnya tetapi pelaksanaannya.
Pendidikan karakter, mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tetapi di rumahdan di lingkungan sosial. Bahkan pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup bangsa ini. Oleh karena itu membentuk karakter buan hanya tugas seorang pendidik, tetapi juga tugas orang tua dan lingkungannya.
Bayangkan persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orang tua masa kini. Anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumberdaya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan karakter yang baik. Sumber daya yang memiliki karakter kuat-lah yang akan mampu berlaga dalam persaingan abad 21.
Betapa pentingnya pendidikan karakter bagi kelangsungan hidup seorang anak manusia dalam menjalani kehidupannya kelak. Oleh karena itu pendidikan karakter merupakan harga mati yang harus diimplementasikan. Seorang anak manusia lahir dengan membawa kepribadiannya masing-masing. Tugas pendidik, masyarakat, dan orang tua melengkapinya dengan pendidikan karakter hingga mewujudkan karater yang baik melalui sebuah pembiasaan.